Minggu, Oktober 09, 2011

Seminar Pendidikan Karakter Berbasis Metode Prophetic Parenting



Konsultasi Psikologi

 Berikut ini tentang seminar psikologi islam di solo, selengkapnya  bisa di baca yang bersumberkan dari http://psikologi.ums.ac.id .“Saya ingin mengajak Anda untuk kembali melihat betapa berbedanya antara apa yang kita sebut sebagai pendidikan karakter dengan apa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW sehingga melahirkan manusia-manusia dengan karakter mulia yang luar biasa”. Demikianlah satu tantangan yang diajukan oleh Ustadz Muhammad Fauzil Adhim, pembicara pertama dalam seminar Pendidikan Karakter Berbasis Metode Prophetic Parenting, yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi), Komisariat Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo, Jawa Tengah, Ahad, (02/10).



Ustadz Fauzil Adhim mengingatkan dan mengajak merenung para peserta seminar yang bertempat di Ruang Seminar, Lantai 5, Gedung Pasca Sarjana, Kampus 2 UMS, Pabelan, ini dengan sejarah Islam di era Kenabian yang telah menerapkan pendidikan karakter dengan sukses kepada Sahabat Nabi. Namun, dimata Ustadz berputra tujuh orang ini, pendidikan karakter yang terjadi saat ini belum bisa meneladani cara pengasuhan ala Nabi.

“Sesungguhnya tidaklah Rasulullah SAW diutus kecuali untuk membentuk akhlak mulia (Akhlaqul Karimah),” tutur ustadz kelahiran Jombang ini, “Tetapi mari periksa perjalanan sejarah nabi, apakah yang beliau lakukan di awal-awal masa kenabian Beliau? Apakah beliau melakukan serangkaian pembiasaaan berkait dengan budi pekerti?”

Pertanyaan bernada retorik yang diajukan ustadz dari depan panggung seminar ini membuat para peserta terdiam. Beberapa saat kemudian, sang ustadz yang produktif menulis buku-buku tentang keluarga dan anak ini menjawab sendiri pertanyaan itu dengan suara lantang. Pembiasaan bukanlah hal yang ditempuh oleh Nabi  SAW dalam rangka pembangunan karakter unggul.

“Sepanjang yang saya pahami bukan itu yang dilakukan Nabi SAW. Pada masa-masa awal dakwah, titik tekan utamanya adalah pada penanaman kayakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala dan agar generasi awal Islam tidak mempersekutukan Allah SWT,” tutur ustadz Fauzil Adhim.

Menurut Ustadz Fauzil Adhim, tindakan yang harus dilakukan dalam rangka pembentukan karakter justru dengan proses diseminasi pada pemahaman fundamental tauhid yang kokoh.

“Nabi menempuh jalan dengan membangun akidah yang lurus, menempa mereka untuk memiliki ketundukan dan ketaatan total kepada Allah Ta’ala melaui qiyamul lail yang panjang dan menafikkan sesembahan selain Allah. Pada saat itu, jilbab belumlah diperintahkan, minum khamar belum dicegah dan banyak hal lain masih dibiarkan,” tutur ustadz yang juga seorang psikolog ini dengan nada tegas.

Metode yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW yang mengedepankan penanaman tauhid memiliki daya efektifitas yang luar biasa dalam membangun karakter para Sahabat Nabi, sehingga bisa menciptakan dasar yang kokoh bagi dakwah Islam di era Nabi. Karena efektifitas yang sangat tinggi dalam kesuksesan membangun karakter inilah, metode ala Nabi ini mengandung banyak pelajaran yang bisa dipetik dan diterapkan di segala zaman, bahkan hingga kini.

“Ini memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Dalam sejarah kita bisa menyaksikan betapa tinggi kemuliaan akhlak para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, maupun para salafush-shalih. Tetapi kemuliaan akhlak itu bukan semata-mata resultan atau akibat dari pembiasaan, melainkan tumbuh di atas keyakinan yang kuat dan keimanan yang benar,” tandas ustadz yang kini tinggal di kawasan Monjali 49, Yogyakarta, ini.

Dengan alasan betapa sangat besar pengaruh pada jiwa para sahabat melalui metode pendidikan yang  diterapkan oleh Nabi SAW, ustadz Fauzil Adhim memberikan stresing yang kuat bahwa ada perbedaan yang sangat tajam antara metode pembiasaan (habituasi) dengan metode penanaman keyakinan yang kokoh.

“Sangat berbeda kebiasaan yang muncul sebagai hasil pembiasaan dengan kebiasanan yang lahir dari keyakinan yang kuat. Yang pertama akan mudah luntur oleh situasi, sedangkan yang kedua cenderung mewarnai dan membawa pengaruh tatkala kita berada pada lingkungan yang sangat berbeda,” kata ustadz Fauzil Adhim tegas.

Sulbi Ayah
Sementara itu, pembicara kedua, Dra. Juliani Prasetyaningrum, M.Si., menyatakan bahwa figur Nabi Muhammad SAW adalah figur yang telah sempurna dalam memberikan arahan dalam upaya pengasuhan anak. “Rasulullah SAW sudah memberikan contoh yang sempurna dalam mendidik umatnya, bahkan sejak sebelum anak lahir, hingga meninggal dunia,” kata Bu Juni, panggilan akrabnya.

Dalam pandangan staf pengajar di Fakultas Psikologi, UMS, ini, Rasulullah SAW bahkan telah mendidik umat Islam dalam pengasuhan anak secara sangat dini. “Nabi juga memberikan cara-cara mendidik umatnya sejak mereka masih dalam sulbi ayahnya, hingga masa remaja berakhir,” tutur Bu Juli.

Dalam presentasinya yang disampaikan dengan atraktif dan banyak melibatkan audiens peserta seminar, Bu Juli menyatakan periode persiapan untuk mendidik anak dengan metode yang mencontoh Nabi Muhammad SAW harus sudah dimulai sejak dalam sulbi sang ayah, hingga anak berusia tiga tahun. Karena itu, persiapan pengasuhan anak yang baik juga mesti sudah dipersipapkan sejak masa pra-nikah.

“Pilihlah calon suami atau istri yang shalih atau shalihah, karena akan mampu menjadi pendidikan yang tepat bagi anak-anaknya!” nasihat Bu Juli, di depan 200-an peserta seminar yang sebagian besar adalah mahasiswa yang belum berkeluarga ini.
“Sebagai calon ayah dan ibu, Anda juga dituntut untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Doakanlah anak sejak masih di dalam sulbi ayah, agar mendapat hidayah Allah!” pesan Bu Juli.

Pada tahapan-tahapan atau tahun-tahun selanjutnya, dalam mendidik anak, menurut Bu Juli, memiliki karakter yang berbeda-beda. Ketika anak dalam usia 4 sampai 10, Bu Juli menyarankan sikap yang penuh cinta kepada anak. “Berbicaralah dengan lembut pada anak, hargai mainan mereka, jangan  sekali-kali membubarkan anak yang sedang bermain, jangan mencela dan menegur anak, serta bimbinglah anak menuju ahlak mulia dan doakan kebaikan untuknya!” tuturnya memberikan tips praktis.

Pada masa anak berusia 10-14 tahun, perlakuan kepada anak juga harus mulai memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya yang sudah mulai matang. Bu Juli memberikan saran agar kebiasaan yang selama ini kurang baik ditanggalkan, seperti begadang atau tidur yang terlalu malam bagi anak.

“Biasakan anak tidur selepas isya’, pisahkan tempat tidur anak dan berikan satu anak satu tempat tidur. Juga biasakan lah anak untuk menundukan pandangan dan menutup aurat!” pesan ibu empat putra ini.

Terkait dengan tata cara yang tepat untuk memberikan hukuman kepada anak bila berbuat salah, menurut Bu Juli, hukuman harus diberikan, namun harus bersifat didaktik. “Berikan hukuman yang mendidik!” tegasnya.

Dari semua tips dan saran yang disampaikan, Bu Juli menekankan bahwa itu semua akan kurang daya efektifitasnya bila sang orang tua tak bisa menjadi model teladan bagi sang anak. “Orang tua juga harus menjadi model yang baik bagi anak-anaknya!” tutur Bu Juli.
Dengan penerapan metode pengasuhan ala Nabi ini, diharapkan, krisis karakter yang kini terasa melanda masyarakat bisa diurai, agar anak bangsa bisa bangkit dari keterpurukannya, seperti harapan ketua panitia seminar, Hasan Fatihin di awal acara.

“Dengan seminar ini saya berharap kita jadi mengerti dan tahu cara yang benar dalam mengasuh anak, seperti yang dicontohkan oleh Nabi. Agar moral anak bangsa tidak lagi terpuruk,” kata Hasan.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

apa perbedaan psikologi dan psikologi islam???

My blog

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More