Seminar dan Talkshow bertajuk “Pentingnya Penilaian Kinerja Berdasarkan Kompetensi di Dunia Kerja” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Magister Profesi Psikologi Angkatan IX, Program Pasca Sarjana, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo, Jawa Tengah, Sabtu (01/10).
Bertempat di Gedung G, Fakultas Ekonomi, Kampus II, Pabelan, Solo, pemateri utama dalam acara ini adalah Praktisi Psikologi Industri Organisasi, Siti Nurchasanah yang banyak berkecimpung dalam asesmen dan pendampingan manajemen SDM di sejumlah BUMN Agro Industri di Indonesia.
Siti Nurchasanah menyatakan saat ini mulai muncul fenomena krisis talenta yang banyak sekali dijumpai dalam dunia industri. Banyak perusahaan mampu membuat rancangan visi hebat, ide brilian, target besar, namun hanya sedikit yang tercapai. Faktor penyebabnya adalah karena inkompetensi yang ada dalam pengembangan SDM dalam perusahaan terkait.
Krisis talenta ini bisa berwujud dalam beragam fenomena yang khas dalam dunia organisasi bisnis. “Banyak program bagus diciptakan, tapi sedikit orang yang berkompeten. Banyak orang bersedia ditunjuk, tapis sedikit orang yang bisa dipercaya,” tegas Bu Anna, panggilan Siti Nurchasanah.
Keadaan yang memprihatinkan ini ujung-ujungnya akan menimbulkan rebutan SDM berkualitas di antara pelaku industri, baik sesama industri maupun di antara industri yang berbeda. “Akhirnya yang terjadi: organisasi dipaksa untuk saling membajak,” simpul Bu Anna dengan nada prihatin.
Teori Gunung Es
Banyaknya tugas, pekerjaan, serta posisi-posisi dalam organisasi yang menemui jalan buntu dalam pelaksanaannya ini harus ditangani dengan cerdas, bijak, dan tepat dalam proses pengelolaan SDM organisasi. Pengelolaan SDM dengan basis kompetensi bisa menjawab gejala ketimpangan dalam organisasi yang sedang mengalami krisis talenta ini.
Bu Anna menegaskan sebagai solusi dalam persoalan manajemen SDM, pengelolaan SDM dengan basis kompetensi menuntut adanya dua jenis kompetensi yang tak mungkin bisa dipisahkan, yakni antara hard competency dan soft competency.
“Hard competency saya tidak cukup. Pengetahuan dan keterampilan memang sangat penting tapi tidaklah cukup, meski ini yang paling mudah untuk diamati dan dikembangkan,” urai wanita enerjik yang pernah menjadi kepala Unit Assessment Center, Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP), Yogyakarta ini.
Untuk menciptakan SDM yang berkompetensi andal, soft competency sangat diperlukan untuk mandampingi hard competency yang dinilai kurang dan lemah. “Dengan soft competency, akan didapat SDM yang bertanggungjawab, memiliki kepercayaan diri, mampu bersosialisasi, memiliki kepemimpinan tangguh, mampu bekerjasama dalam tim dan akan berorientasi pada pelanggan,” tutur Bu Anna.
Menurut Bu Anna, antara hard competency dan soft competency ini berada dalam hubungan yang bisa dianalogikan sebagaimana gunung es. Hard competency adalah gunung esnya, sedang soft competency adalah dasar gunung es itudan ini jauh lebih fundamental meski berada jauh di bawah permukaan laut dan tidak tampak.
Read More :
http://psikologi.ums.ac.id/?p=1492
Bertempat di Gedung G, Fakultas Ekonomi, Kampus II, Pabelan, Solo, pemateri utama dalam acara ini adalah Praktisi Psikologi Industri Organisasi, Siti Nurchasanah yang banyak berkecimpung dalam asesmen dan pendampingan manajemen SDM di sejumlah BUMN Agro Industri di Indonesia.
Siti Nurchasanah menyatakan saat ini mulai muncul fenomena krisis talenta yang banyak sekali dijumpai dalam dunia industri. Banyak perusahaan mampu membuat rancangan visi hebat, ide brilian, target besar, namun hanya sedikit yang tercapai. Faktor penyebabnya adalah karena inkompetensi yang ada dalam pengembangan SDM dalam perusahaan terkait.
Krisis talenta ini bisa berwujud dalam beragam fenomena yang khas dalam dunia organisasi bisnis. “Banyak program bagus diciptakan, tapi sedikit orang yang berkompeten. Banyak orang bersedia ditunjuk, tapis sedikit orang yang bisa dipercaya,” tegas Bu Anna, panggilan Siti Nurchasanah.
Keadaan yang memprihatinkan ini ujung-ujungnya akan menimbulkan rebutan SDM berkualitas di antara pelaku industri, baik sesama industri maupun di antara industri yang berbeda. “Akhirnya yang terjadi: organisasi dipaksa untuk saling membajak,” simpul Bu Anna dengan nada prihatin.
Teori Gunung Es
Banyaknya tugas, pekerjaan, serta posisi-posisi dalam organisasi yang menemui jalan buntu dalam pelaksanaannya ini harus ditangani dengan cerdas, bijak, dan tepat dalam proses pengelolaan SDM organisasi. Pengelolaan SDM dengan basis kompetensi bisa menjawab gejala ketimpangan dalam organisasi yang sedang mengalami krisis talenta ini.
Bu Anna menegaskan sebagai solusi dalam persoalan manajemen SDM, pengelolaan SDM dengan basis kompetensi menuntut adanya dua jenis kompetensi yang tak mungkin bisa dipisahkan, yakni antara hard competency dan soft competency.
“Hard competency saya tidak cukup. Pengetahuan dan keterampilan memang sangat penting tapi tidaklah cukup, meski ini yang paling mudah untuk diamati dan dikembangkan,” urai wanita enerjik yang pernah menjadi kepala Unit Assessment Center, Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP), Yogyakarta ini.
Untuk menciptakan SDM yang berkompetensi andal, soft competency sangat diperlukan untuk mandampingi hard competency yang dinilai kurang dan lemah. “Dengan soft competency, akan didapat SDM yang bertanggungjawab, memiliki kepercayaan diri, mampu bersosialisasi, memiliki kepemimpinan tangguh, mampu bekerjasama dalam tim dan akan berorientasi pada pelanggan,” tutur Bu Anna.
Menurut Bu Anna, antara hard competency dan soft competency ini berada dalam hubungan yang bisa dianalogikan sebagaimana gunung es. Hard competency adalah gunung esnya, sedang soft competency adalah dasar gunung es itudan ini jauh lebih fundamental meski berada jauh di bawah permukaan laut dan tidak tampak.
Read More :
http://psikologi.ums.ac.id/?p=1492








10.08
Ahmed Riza

Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar